Selasa, 01 Juli 2008

Minggu, 30 Maret 2008

Model Pembelajaran Di Sekolah Dasar

Model Pembelajaran Di Sekolah Dasar

Masalah : Banyak guru mengeluh, bagaimanakah cara untuk membuat aktivitas pembelajaran bila kelas berjumlah 40 orang dan keadaan ruangan tidak memungkinkan untuk berkelompok ? Apakah aktivitas harus selalu dilakukan dengan belajar kelompok? Bagaimanakah kegiatan mengajar matematika di Sekolah dasar tanpa alat-alat yang rumit bisa dilakukan?

Solusi : Kegiatan aktif tidak selalu harus dengan berkelompok akan tetapi dapat dilakukan dengan permainan /kegiatan secara klasikal yang diharapkan dapat memunculkan 4 aspek, yaitu: Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi. Akan tetapi kegiatan kelompok lebih memberikan kesempatan untuk siswa agar lebih mampu berkomunikasi dan lebih menyenangkan belajar bersama dengan teman sebayanya, serta dapat memunculkan nilai-nilai sosial , seperti kerjasama, saling membelajarkan dan sebagainya.
Untuk menjadikan kegiatan selain Aktif tetapi juga menyenangkan, maka guru harus lebih kreatif dalam menyiapkan dan memfasilitasi agar suasana kelas menyenangkan,misalnya dengan menggubah sebuah lagu menjadi yel-yel yang memotivasi, menggunakan waktu efektif sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna .Dengan demikian guru sudah berupaya untuk menggunakan kegiatan dengan model PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, efektif dan Menyenangkan)
Berikut ini sebuah contoh pembelajaran dengan pendekatan PAKEM dilakukan tanpa menggunakan alat yang susah, dan aktifitas secara klasikal.
Contoh ini mengambil suatu pokok bahasan sesuai dengan kompetensi dasar yang diharapkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)






Contoh
Model Pembelajaran PAKEM di Sekolah Dasar
Model pembelajaran 1.
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas : IV semester 1
Waktu : .................. jp
Pokok Bahasan : Bilangan
Sub pokok Bahasan I. : a. Mendeskripsikan kelipatan bilangan
b. Menentukan KPK
c. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KPK

Standar Kompetensi :
2. Memahami dan menggunakan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah

Kompetensi Dasar :
Mendeskripsikan konsep faktor dan kelipatan
Menentukan kelipatan dan faktor bilangan
Menentukan KPK dan FPB
Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan KBK dan FPB

Sub Pokok bahasan I : KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil)

Kegiatan : Klasikal
A. Prasyarat : Mengulang materi Kelas 1 , 2, dan 3 tentang bilangan di Sekolah Dasar.
1. Siswa diminta untuk menghitung dengan menyebutkan secara urut mulai nomor 1 dan seterusnya sampai semua siswa mendapatkan nomor
2. Siswa diminta mengingat nomor dirinya yang disebutkan tadi.
3. Guru bisa mengecek ingatan siswa, dengan menyebutkan nomor tertentu dan siswa diminta menyebutkan “ oke” kalau nomornya disebutkan.





B. Kegiatan Inti :
· Pemahaman konsep dan prosedur .
(Menemukan KPK dari dua bilangan atau lebih)
Siswa diminta untuk menyebutkan kembali nomornya secara urut mulai dari nomor 1 dst.
Guru memberikan informasi, agar siswa menyebutkan namanya pada waktu tiba pada nomor yang menunjukkan kelipatan 2 ( setiap bilangan yang merupakan pertambahan 2 mulai dari bilangan 2, 4 , dst) )
Guru bertanya : siswa mana saja yang menyebutkan namanya tadi dan diminta untuk menyebutkan nomornya sebagai kelipatan 2, guru meminta siswa menuliskan bilangan tersebut di papan tulis.
Hal yang sama dilakukan untuk kelipatan 3.
Guru bertanya siswa mana saja yang menyebutkan namanya tadi , dan diminta untuk menyebutkan nomornya sebagai kelipatan 3, guru meminta siswa menuliskan bilangan tersebut di papan tulis. .
Kemudian dari kegiatan ini, guru menanyakan siswa mana saja yang menyebutkan namanya dua kali.
Siswa yang menyebutkan namanya dua kali pada waktu kelipatan 2 dan kelipatn 3 diminta menyebutkan nomornya, dan menuliskannya di papan tulis. Siswa yang lain diminta memberikan tepuk tangan . Guru menegaskan bahwa bilangan-bilangan tersebut adalah bilangan kelipatan persekutuan 2 dan 3.
Guru meminta siswa untuk menyebutkan bilangan mana yang paling kecil dari kelipatan bilangan 2 dan 3 tersebut, dan guru menegaskan bahwa bilangan tersebut adalah kelipatan persekutuan terkecil dari 2 dan 3.
Sebelum pindah ke masalah yang lebih rumit, siswa dapat diajak untuk bernyanyi agar lebih termotivasi
Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan kegiatan yang sama dilakukan untuk mendapatkan KPK dari dua bilangan lainnya (misalnya 3 dan 5 ) , bilangan yang dipilih jangan bilangan besar karena jumlah siswa terbatas .
Permainan ini dapat dikembangkan untuk pemahaman lanjutan, misalnya menyebutkan KPK 2 dan 3 dari bilangan diantara 20 s.d 60 . Dengan mulai start hitungan 20 pada siswa pertama dan berakhir pada 60 siswa yang terakhir.
· Pengembangan (Penalaran dan komunikasi) :
Pengembangan selanjutnya siswa diminta menuliskan kelipatan bilangan 3 dan 5 tanpa permainan. Dapat dikerjakan secara individu , berkelompok atau berpasangan dengan teman disebelahnya. Diminta siswa untuk mengkomunikasikan perolehannya
Guru memberikan beberapa soal, siswa diharapkan dapat menemukan KPK dari soal-soal tersebut .
Siswa diminta untuk mengkomunikasikan hasil perolehannya baik secara lisan maupun tulisan.
· Penggunaan konsep (Pemecahan masalah ) :
Memberikan tugas latihan , guru memilih soal-soal yang bernuansa kehidupan sehari-hari. . Misalnya yang berhubungan dengan tugas menyapu di sekolah. A menyapu pada tiap hari Senin. Sedangkan B , pada hari pertama menyapu pada hari Senin pula dan bersama dengan A , tetapi hari selanjutnya ia menyapu setiap tiga hari sekali. Jika hari senin pertama adalah tanggal 3 April , kapan ia dapat sama-sama menyapu bersama A ? Siswa dapat mengerjakannya dengan berkelompok atau berpasangan.

C. Penutup :
Guru melakukan refleksi dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
Dengan cara :
Menanyakan kepada siswa kegiatan apa dan menemukan apa kegiatan hari ini
Menanyakan apakah kegiatan yang dilakukan cukup menyenangkan, atau sulit atau membosankan? (komentar siswa perlu dicatat guru untuk perbaikan lanjutan)
Memberikan pesan dan tugas-tugas yang akan dilaksanakan pada pertemuan yang akan datang






Catatan tentang Model pembelajaran yang dilakukan :
Pengecekan Komponen PAKEM : Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi :
Mengalami : siswa mengkonstruksi sendiri pemahaman konsep dengan mengalami
Interaksi : terjadinya kegiatan tanya jawab antara guru-siswa, siswa-siswa , baik dalam diskusi kelompok maupun diskusi klasikal , layanan guru dalam memberikan bantuan pada siswa yang lambat memahaminya
Komunikasi : memberikan informasi hasil yang diperolehnya baik secara lisan maupun secara tertulis.
Refleksi

Persiapan Ujian Nasional

PERSIAPAN UJIAN NASIONAL
Sekarang ini merupakan bulan-bulan sibuk bagi sekolah dalam mempersiapkan peserta didiknya untuk mengikuti Ujian Nasional. Banyak sekolah-sekolah yang beralih fungsi menjadi bimbingan belajar agar peserta didiknya dapat berhasil mencapai nilai standar minimal rata-rata 5,25 untuk semua mata pelajaran yang di UN kan, dan tidak ada nilai 4,25 pada mata pelajaran tersebut. Lepas dari baik atau tidak , cara- cara yang dilakukan guru mata pelajaran yang diUNkan tersebut, hal tersebut merupakan salah satu usaha , dan hal ini sah-sah saja. Pembinaan peserta didik menjelang ujian nasional memang perlu dilakukan. Di samping mengingatkan para peserta didik sendiri, juga bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa kelulusan bukan lagi hadiah (seperti dulu lulus 100%) akan tetapi kesuksesan harus disertai dengan perjuangan.
Lain lagi dengan upaya tersebut. Ada sekolah-sekolah yang berupaya menyiapkan tim sukses. Guru-guru mata pelajaran yang diUNkan seharusnya melaksanakan tugas mengawas silang disekolah lain, malahan justru di jadikan panitia pelaksanan UN di sekolahnya sendiri. Bahkan diberi tugas untuk membuat kunci jawaban yang nantinya akan diletakkan di tempat tertentu yang sudah disepakati dan kemudian akan diambil oleh salah seorang peserta didik atau guru yang juga ditugasi untuk kemudian disebarluaskan kepeserta didik lainnya.
Apa yang saya tulis ini berdasarkan dari SMS teman - teman guru, yang sudah meramalkan kalau pelaksanaan UN tidak murni di kabupatennya. Ini juga usaha kaaaan, cuma caranya kayak nya cara tersebut enggak jujur gitu lho.
Sementara ini kita cuma berharap agar pelaksanaan UN dimanapun, akan dapat terlaksana dengan kondusif, termasuk kejujuran dan pengamanannya. Tentunya diperlukan perhatian dari kalangan pendidik yang terlibat dalam pelaksanaan UN.
Nah kalau di kalangan pendidikan sudah disinyalir ketidak jujuran, lalu siapa lagi yang kita harapkan menjadi contoh kejujuran bagi peserta didik kita??????? Ini akan jadi PR kita semua sebagai insan pendidik. Semoga

Minggu, 16 Maret 2008

KEMAJUAN ATAU KEMUNDURAN?

Kita sekarang banyak melihat dari siaran televisi, keadaan yang sangat memprihatinkan. bukan cuma dari segi ekonomi saja, akan tetapi dari segi norma-norma sosial dan nilai-nilai kehidupan. Bagaimana masyarakat miskin berebut pembagian sembako yang dibagikan oleh suatu LSM berjalan ricuh.
Jika memang sembako tersebut harus diterima oleh masyarakat miskin, apakah tidak ada cara lain sehingga masyarakat harus berebut-rebut, dorong mendorong, saling caci mencaci, sampai ada korban yang berjatuhan. Sehingga maksud baik menjadi suatu peristiwa yang mendatangkan mudarat. Apakah ini yang memang dikehendaki agar pihak pembagi merasa " diperlukan" ????Pendidikan apa yang kita peroleh dari peristiwa tersebut? Pendidikan yang melatih masyarakat menjadi beringas, emosional, dan lupa kontrol diri karena mereka membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dijangkau, dan berupaya untuk mendapatkan sembako gratis. Apakah hal ini tidak pernah terpikirkan oleh para dermawan yang semula bermaksud baik, tetapi malah menumbuhkan masalah. Apa ini bukan bentuk pendidikan dalam kehidupan?
Ini baru satu macam kejadian saja. Kejadian lain adanya seorang pendidik yang melecehkan muridnya. Bagaimana mungkin seorang pendidik, guru yang seharusnya digugu dan ditiru mampu melaksanakan perbuatan aib seperti itu? Dampaknya bukan untuk si pelaku saja, akan tetapi dapat berakibat masyarakat menyepelekan wibawa seorang guru.
Lain lagi dengan gambaran seorang guru di sinetron. Ada guru yang di skenariokan sebagai guru bloon, guru pemarah, guru yang tanpa perhitungan menghukum muridnya, guru yang konyol dsb. Sinetron ini ditonton oleh banyak murid dari berbagai jenjang pendidikan mulai anak TK, sampai mahasiswa perguruan tinggi. Apakah sang sutradara enggak bisa mencari peran guru yang bisa dijadikan contoh yang baik?Masih banyak lagi sih contoh-contoh yang bisa kita sebut dengan pernik-pernik pendidikan.
Tetapi untuk sementara biar ini saja dulu semoga para pembaca bisa memberi komentar dimana salahnya? kira-kira punya jalan keluar enggak ya?