Minggu, 16 Maret 2008

KEMAJUAN ATAU KEMUNDURAN?

Kita sekarang banyak melihat dari siaran televisi, keadaan yang sangat memprihatinkan. bukan cuma dari segi ekonomi saja, akan tetapi dari segi norma-norma sosial dan nilai-nilai kehidupan. Bagaimana masyarakat miskin berebut pembagian sembako yang dibagikan oleh suatu LSM berjalan ricuh.
Jika memang sembako tersebut harus diterima oleh masyarakat miskin, apakah tidak ada cara lain sehingga masyarakat harus berebut-rebut, dorong mendorong, saling caci mencaci, sampai ada korban yang berjatuhan. Sehingga maksud baik menjadi suatu peristiwa yang mendatangkan mudarat. Apakah ini yang memang dikehendaki agar pihak pembagi merasa " diperlukan" ????Pendidikan apa yang kita peroleh dari peristiwa tersebut? Pendidikan yang melatih masyarakat menjadi beringas, emosional, dan lupa kontrol diri karena mereka membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dijangkau, dan berupaya untuk mendapatkan sembako gratis. Apakah hal ini tidak pernah terpikirkan oleh para dermawan yang semula bermaksud baik, tetapi malah menumbuhkan masalah. Apa ini bukan bentuk pendidikan dalam kehidupan?
Ini baru satu macam kejadian saja. Kejadian lain adanya seorang pendidik yang melecehkan muridnya. Bagaimana mungkin seorang pendidik, guru yang seharusnya digugu dan ditiru mampu melaksanakan perbuatan aib seperti itu? Dampaknya bukan untuk si pelaku saja, akan tetapi dapat berakibat masyarakat menyepelekan wibawa seorang guru.
Lain lagi dengan gambaran seorang guru di sinetron. Ada guru yang di skenariokan sebagai guru bloon, guru pemarah, guru yang tanpa perhitungan menghukum muridnya, guru yang konyol dsb. Sinetron ini ditonton oleh banyak murid dari berbagai jenjang pendidikan mulai anak TK, sampai mahasiswa perguruan tinggi. Apakah sang sutradara enggak bisa mencari peran guru yang bisa dijadikan contoh yang baik?Masih banyak lagi sih contoh-contoh yang bisa kita sebut dengan pernik-pernik pendidikan.
Tetapi untuk sementara biar ini saja dulu semoga para pembaca bisa memberi komentar dimana salahnya? kira-kira punya jalan keluar enggak ya?

Tidak ada komentar: